Archive for Juli, 2007

Sinetron oh sinetron

Bicara dunia televisi Indonesia tidak akan lepas dengan yang namanya sinetron.

Sinetron atau Soap Opera sudah menjadi tontonan wajib bagi pemirsa tv Indonesia terutama para ibu rumah tangga, PRT, maupun tontonan alternatif bagi pemirsa tv lainnya yang g menemukan acara yang lebih bagus.

Sinetron menjadi booming saat dunia film Indonesia yang katanya insan perfilman itu mati suri dan sekarang saat film Indonesia mulai bangkit dari kubur (serem bgt bahasanya), sinetron tetap berjaya namun dengan format lainnya.

Beberapa tahun yang lalu, dunia sinetron Indonesia sempat dikuasai oleh 2 PH besar yang saling berseteru dan sama2 dimiliki oleh keturunan India. 2 Ph itu saling berebut slot sinetron dan TV serta berlomba-lomba untuk mengkontrak artis-artis dengan nama besar seperti Desy Ratnasari, Jeremy Thomas, Tamara B, dll.

Namun, namanya manusia pasti juga akan merasa bosan kan bila berada pada satu keadaan tertentu dalam waktu cukup lama?? Nah itu juga yang terjadi dengan sinetron Indonesia. Topik percintaan kaum kuliahan mulai bergeser dengan topik2 yang bergenre mistik dan herannya semua televisi selalu menyajikan tema yang sama. Hal itu tidak hanya terjadi ada sinetron, namun juga pada tayangan2 reality show. Tentu masih ingat kan dengan acara di RCTI yang terkenal dengan “Begini critanya…”

Nah, karena banyak yang memprotes, akhirnya tema tersebut berpindah lagi tapi kok tidak meninggalkan unsur2 mistik yang tidak masuk akal. Tayangan religius yang menceritakan kejahatan manusia di dunia dan balasannya mulai merajalela, namun sayangnya hal tersebut tidak diolah dengan baik. Banyak hal2 tidak masuk akal dan tidak baik bagi pertumbuhan anak kecil; mungkin tidak anak kecil saja ya karena orang dewasa pun lama-lama akan terbentuk pola pikirnya sama seperti yang dilihat/ditontonnya setiap hari.

Tidak hanya itu saja. Sekarang ada tren sinetron baru. Plagiatisme……. heran banget kenapa Indonesia bangga sekali dengan image sebagai PENIRU!!!!!!

Mulai dari VCD bajakan, lagu yang yang lirik/musiknya juga dibajak, baju bajakan, eh sekarang sinetronnya g mau ketinggalan. Banyak sekali sinetron yang tema, tokoh, pokoknya semuanya jiplak abis dari luar negeri sono (kebanyakan sih korea). Heran kenapa kok ga mau nulis kalau itu disadur dari apa gitu. Walaupun niru tapi kalau mau jujur akan lebih dihargai oleh pemirsanya.

Misalnya kalau sinetron jadul itu selalu ada “diangkat dari novel karya Mira W.” misalnya, nah sekarang…. orang bodoh aja tau kalau Candy yang tayang di RCTI itu dari komik Candy-Candy (komik jamanku masih TK bo..), kemudian FTV “Pacar untuk Calon Kakak Iparku” itu dicontoh plek habis mirip dari film “Ten Things I Hate About You” (Julia Stiles, Heath Ledger), kemudian masih ada ‘Ratu” dan teman-temannya lagi yang nyontoh film dari luar sana.

Kenapa ga mau JUJUR sih??? Geram banget aku!!!!! Lebih baik yang Meteor Garden kan yang menuliskan bahwa itu dibuat berdasarkan komik…. Apa kreatifitas di Indonesia sudah mati? Atau plagiat sudah jadi kepribadian baru lainnya bangsa ini?? Bangga banget kalau bisa niru karya orang lain!!! Udah gitu masih ada yang teriak2 dengan jangan beli bajakan atau NO Piracy, lha wong yang melakukanpembajakan itu ga jauh dari orang2 seni juga…

Trus kenapa sinetron Indonesia jadi bertele-tele??? Masih g kapok dengan pengalaman film TERSANJUNG ya, yang jadi kesandung di masyarakat. Apa gara2 rating trus profit, jadinya tidak memperhatikan kepentingan masyarakat?

Ingat, televisi adalah salah satu media untuk memberikan informasi dan edukasi bukan untuk menipu dan membodohi masyarakat!! Untuk apa banyak orang pintar dan untuk apa menuntut pendidikan gratis kalau pembodohan itu datangnya justru dari televisi? Sangat disayangkan juga bahwa sinetron di Indonesia hanya menayangkan hal2 tentang perebutan harta, perselisihan dalam keluarga, keserakahan, dll Lihat donk kenyataan yang ada di masyarakat. Jangan memberikan sesuatu yang utopis ke masyarakat, karena hidup dari masyrakat Indonesia saat ini kebanyakan sudah cukup diombang-ambingkan dalam hal-hal yang tidak baik.

Memang biaya produksi, dst untuk menjalankan dan menghidupkan roda dunia pertelevisian itu tidak murah; namun sangat disayangkan bila hal tersebut membuat orang-orang yang berkecimpung dibalik tabung kaca itu mempunyai rasa tanggung jawab terhadap apa akibatnya yang terjadi dalam masyarakat dengan semua yang mereka lakukan.

Jangan menutup mata juga kalau sekarang masyarakat banyak yang meniru hal2 g penting dari televisi, termasuk pembunuhan2 yang semakin merajalela.

Masih ditunggu dan diharapkan insan2 televisi yang mempunyai rasa kreativitas tinggi dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Dunia Public Relations di Indonesia

PR atau Public Relations atau (lagi) dalam bahasa Indonesianya adalah Humas.

Yap…profesi yang satu ini sedang booming di Indonesia sejalan dengan semakin diminatinya jurusan atau fakultas Ilmu Komunikasi. Sayangnya hal ini tidak disertai dengan pemahaman yang baik tentang apa itu PR, fungsi, peran, job desc, dan kualifikasi apa saja yang harus dimiliki oleh seorang praktisi PR.

Jujur saja, sebelum aku terjebak di C building, PCU Surabaya; aku tidak mempunyai keinginan untuk menjadi seorang praktisi PR. Walaupun aku sudah sedikit mengenal tentang PR.

Minat pada dunia jurnalistik dan keinginan keliling dunia gratis (hahaha….) yang membuat aku hanya mau kuliah mengambil jurusan Ilmu Komunikasi atau Hubungan Internasional. Rasanya asik sekali bisa berkenalan dengan banyak orang terutama bukan orang Indonesia. Bukannya tidak mencintai produk dalam negeri, namun dengan banyak mengenal orang-orang bule, maka aku akan semakin banyak mengenal budaya dan hal-hal positif yang dapat menjadi masukan buat perkembangan diriku. Sedangkan ketertarikan pada dunia jurnalistik, ehmmm.. ga’ tau juga berasal dari mana? Seingatku, aku sudah mulai aktif dalam kegiatan jurnalistik sejak SMA kelas 1 dan berhenti tepat 6 bulan sebelum EBTANAS. Mungkin juga karena aku dari kecil sudah dihantam sama mama dengan buku, lalu melihat para news anchor RCTI (thank’s God waktu itu tinggal di Bali) ,melihat betapa hebatnya para wartawan, dan mengidolakan Desy Anwar. Bagiku dahulu (bahkan hingga saat ini) ‘hebat banget!!! Cewek, anaknya diplomat, pintar…nope!cerdas mungkin itu yang benar, menguasai banyak bahasa, dst’.

Yah…itulah yang membuat aku tertarik untuk mendalami Ilmu Komunikasi. Lagipula males banget pikirku waktu itu yang herannya sampai sekarang juga, kok kuliah susah dan mahal ambil jurusan yang banyak saingannya kayak manajemen, akuntansi, marketing, pokoknya yang berbau ekonomi gitu deh. Sedangkan mau ambil jurusan teknik…rada trauma juga sih pengalaman waktu SMA; lagipula masa mau ambil jurusan elektro hahaha…..bisa jadi ratu penyamun aku :p

Ternyata, begitu masuk kuliah doenk!!!!

PR itu menyenangkan lo…penuh tantangan dan walaupun saat ini sudah mulai banyak orang yang tertarik pada bidang ini, namun SDM yang berkualitas dan merupakan SDM dengan basic ilmu Komunikasi atau PR masih sangat jarang. Padahal peluang karir bidang PR untuk di Indonesia, menurutku baru menapak beberapa langkah.

Setahun belakangan ini, aku banyak mendapatkan informasi baik dari buku, majalah, berita, maupun jurnal yang menghubungkan antara dunia PR dan marketing. Malah menurut Philip Kotler, PR itu jadi salah bagian dalam Marketing Mix. Padahal PR dan Marketing itu tidak sama. Yah…berhubung masih dalam tahap pembelajaran jadi g bisa jelasin panjang lebar. Ntar sok tau, malah salah. Kan malu …hehehe…..

Lalu, aku baru sadar setelah baca artikel tentang Bapak Pudjobroto (Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Airlines) bahwa kebanyakan tokoh yang dikenal oleh mahasiswa Komunikasi/PR adalah Phillip Kotler (termasuk diriku sih..), padahal ada James Grunig yang memang seorang tokoh PR.

Donk…kok rasanya familiar y tuh nama? Hahaha….jelas donk namanya juga tokoh PR, pastilah pernah dibahas waktu kuliah.Baru deh aku sadar kalau, sebenarnya ya memang suatu kesalahanku sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi terutama yang berkonsentrasi pada bidang Corporate Communications adalah kurang mengenal tokoh-tokoh dunia PR/CC dan juga kurang mencari informasi atau membaca buku yang membahas murni tentang bidang ini. Padahal rasanya kamarku di kos itu jadi g cukup buat badanku sendiri gara-gara kebanyakan buku dan majalah. Nah lo….jadi yang bener gimana nih?

Lalu mulai deh aku berburu buku PR/CC dan ternyata amit-amit…susahnya minta ampun. Dari Jakarta, Surabaya,Malang, semuanya sama saja. Di perpus kampusku sama aja keadaannya, walaupun bukunya banyaknya g karuan tapi tetap saja referensi tentang bidang ini masih sangat amat kurang.

Ternyata hal ini tidak lain dan bukan karena boomingnya profesi ini dan menjamurnya jurusan yang dibuka tidak disertai juga dengan pengertian yang benar tentang PR. Kenapa kurang? karena praktisi PR yang benar-benar menguasai PR juga masih sangat sedikit, sehingga buku-buku atau jurnal-jurnal penunjang pun menjadi sangat minim.

Hal ini bisa sangat berbahaya bagi mahasiswa PR sendiri. Iya kalau mahasiswa itu aktif untuk mencari informasi, nah kalau modelnya mahasiswa itu sama seperti wakil rakyat yang kerjanya duduk, dengar, dan diam ini lalu bagaimana?

Sebenarnya tidak hanya bagi mahasiswa itu sendiri, namun juga bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia PR; entah itu dosen atau PR profesional sendiri. PR itu kan ilmu sosial, ga sama seperti ilmu-ilmu alam yang udah ada rulesnya yang pasti. Namanya ilmu sosial pasti akan selalu berkembang setiap saat dan orang-orang PR ini harus juga bisa mengikuti perkembangan ini. Misalnya nih ya, kalau dosennya tidak mendapatkan informasi yang cukup dan jarang meng-update-nya, brarti kalau ada apa-apa berarti yang ikut kena getahnya ya mahasiswanya donk; contoh lain kalau itu kejadian menimpa PR profesional berarti yang menanggung getahnya ya klien atau perusahaan tempatnya bekerja. Wah…bisa berabe tuh… :p

Sayangnya juga di Indonesia ini sering dijadikan departemen tambahan atau sampingan. Kalau ga ada PRnya g keren, g mengikuti perkembangan, dst. Padahal g!!! PR itu profesi yang sangat krusial dan penting (semuanya penting juga kok). PR ga hanya sekedar tukang omong, cuap sana-cuap sini, bikin news release, ngurusi event, menjalin hubungan dengan media (media relations); banyak hal yang menjadi bidang PR karena yang diurusi PR itu kan ya stakeholdernya alias publik perusahaan. Publik itu ada dua, publik internal (karyawan, manajemen,pemilik saham,keluarga karyawan,dst) dan eksternal (pemerintah, media massa, komunitas-komunitas,dst). Karena itu, di banyak literatur PR dikatakan bahwa posisi PR itu penting untuk mempunyai hubungan langsung dengan CEO-nya.

Ngeciprit lagi soal PR di Indonesia…hiks sedih aku soalnya udah kadung cinta banget sama profesi ini….

Banyak sekali organisasi/ perusahaan yang belum memandang pentingnya profesi di organisasi/perusahaan mereka. Padahal sebenarnya posisi PR itu tidak ada itu g masalah, yang penting adalah bagaimana bagian-bagian dalam fungsi PR itu ada dalam organisasi/perusahaan itu. Contohnya nih website perusahaan. Buanyak banget website yang jarang di-update, padahal dengan adanya website kan perusahaan/organisasi bisa dikenal dan menjadi lebih dekat dengan stakeholdernya. Mereka bisa memberikan informasi umum tentang organisasi/perusahaan selengkap-lengkapnya, sehingga eksistensi mereka bisa lebih terjaga. Tapi, ada lagi yang lebih parah. Jangankan di-update, punya aja kagak!!!!!

Wadow ini mah sudah mengenaskan namanya……

Kemudian kebanyakan yang tidak punya adalah (sayangnya) instansi pemerintahan, contohnya nih ya KONI, PERBASI, PSSI, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kemudian bagaimana masyarakat dapat mengenal kalau untuk mendapatkan informasi saja susahnya kayak mau nemui bapak presiden (btw pemerintahan/pak SBY punya g y?).

Itu masih dari sisi website, belum menyentuh sisi PR yang lainnya. Namanya PR pasti kan memberikan informasi, kalau sumber informasinya saja tidak ada mau mengetahui yang lainnya lagi dari mana?? Ya tentu donk kalau gitu eksistensi organisasi/perusahaan tersebut jadi turun-turun kayak prestasi Indonesia di mata dunia.

Memang tidak semuanya jelek, namun kalau Garuda saja masih bisa kena masalah gara-gara dicekal g boleh terbang di Eropa (btw, menghubungi PR Garuda gimana ya??) apalagi yang lainnya??

Memang memiliki PR tidak akan menjadi jaminan bahwa eksistensi perusahaan/organisasi tersebut akan 1000% membaik di mata stakeholdernya, namun minimal bidang-bidang kerja PR tersebut dilaksanakan dalam manajemen organisasi/perusahaan tersebut. Nah kalau pihak profesional sudah siap, maka calon-calon SDM baru dunia komunikasi bisa memberikan kontribusi mereka dengan maksimal.

PR bicara tentang image/citra, dan bicara tentang image tentu akan bicara tentang stakeholdernya. Gimana mau dapat citra seperti yang dikehendaki oleh perusahaan/organisasi, kalau tidak melakukan strategi dan kampanye PR yang seharusnya dilakukan.

Harapannya sih dunia PR di Indonesia ini berkembang menuju arah yang benar deh… Soalnya kan sayang banyak SDM yang berkualitas namun tidak dapat memberikan tenaga mereka di tempat yang tepat.

Dan sebaiknya konsep tentang PR itu benar-benar dimengerti oleh Indonesia deh…soalnya berabe juga kalau yang tau hanya segelintir orang; sama aja ngomong sama tembok kalau persepsi dan pengertiannya berbeda. Soalnya PR bukan soal OMONG DOANK!!!

Tulisan ini bukan aku buat karena aku merasa sok pinter atau udah terlalu pintar tentang PR, namun karena merasa kurangnya ilmu yang tepat tentang PR yang harusnya aku dapat dan cari. I love Communications and PR, karena itu aku pengen benar-benar menguasai bidang tersebut; dan sampai kini pun aku masih bingung kalau harus menjelaskan perbedaan antara Marcomm dan Corporate Communications..soalnya aku sendiri masih sering ambigu….

Cukup deh sekian dulu, nyambung lagi dengan tema lain kalau lagi encer otaknya hehehe…..

Semoga…semoga….PR bisa berkembang dengan arah yang tepat di Indonesia….