Archive for Juli 29, 2007

Sinetron oh sinetron

Bicara dunia televisi Indonesia tidak akan lepas dengan yang namanya sinetron.

Sinetron atau Soap Opera sudah menjadi tontonan wajib bagi pemirsa tv Indonesia terutama para ibu rumah tangga, PRT, maupun tontonan alternatif bagi pemirsa tv lainnya yang g menemukan acara yang lebih bagus.

Sinetron menjadi booming saat dunia film Indonesia yang katanya insan perfilman itu mati suri dan sekarang saat film Indonesia mulai bangkit dari kubur (serem bgt bahasanya), sinetron tetap berjaya namun dengan format lainnya.

Beberapa tahun yang lalu, dunia sinetron Indonesia sempat dikuasai oleh 2 PH besar yang saling berseteru dan sama2 dimiliki oleh keturunan India. 2 Ph itu saling berebut slot sinetron dan TV serta berlomba-lomba untuk mengkontrak artis-artis dengan nama besar seperti Desy Ratnasari, Jeremy Thomas, Tamara B, dll.

Namun, namanya manusia pasti juga akan merasa bosan kan bila berada pada satu keadaan tertentu dalam waktu cukup lama?? Nah itu juga yang terjadi dengan sinetron Indonesia. Topik percintaan kaum kuliahan mulai bergeser dengan topik2 yang bergenre mistik dan herannya semua televisi selalu menyajikan tema yang sama. Hal itu tidak hanya terjadi ada sinetron, namun juga pada tayangan2 reality show. Tentu masih ingat kan dengan acara di RCTI yang terkenal dengan “Begini critanya…”

Nah, karena banyak yang memprotes, akhirnya tema tersebut berpindah lagi tapi kok tidak meninggalkan unsur2 mistik yang tidak masuk akal. Tayangan religius yang menceritakan kejahatan manusia di dunia dan balasannya mulai merajalela, namun sayangnya hal tersebut tidak diolah dengan baik. Banyak hal2 tidak masuk akal dan tidak baik bagi pertumbuhan anak kecil; mungkin tidak anak kecil saja ya karena orang dewasa pun lama-lama akan terbentuk pola pikirnya sama seperti yang dilihat/ditontonnya setiap hari.

Tidak hanya itu saja. Sekarang ada tren sinetron baru. Plagiatisme……. heran banget kenapa Indonesia bangga sekali dengan image sebagai PENIRU!!!!!!

Mulai dari VCD bajakan, lagu yang yang lirik/musiknya juga dibajak, baju bajakan, eh sekarang sinetronnya g mau ketinggalan. Banyak sekali sinetron yang tema, tokoh, pokoknya semuanya jiplak abis dari luar negeri sono (kebanyakan sih korea). Heran kenapa kok ga mau nulis kalau itu disadur dari apa gitu. Walaupun niru tapi kalau mau jujur akan lebih dihargai oleh pemirsanya.

Misalnya kalau sinetron jadul itu selalu ada “diangkat dari novel karya Mira W.” misalnya, nah sekarang…. orang bodoh aja tau kalau Candy yang tayang di RCTI itu dari komik Candy-Candy (komik jamanku masih TK bo..), kemudian FTV “Pacar untuk Calon Kakak Iparku” itu dicontoh plek habis mirip dari film “Ten Things I Hate About You” (Julia Stiles, Heath Ledger), kemudian masih ada ‘Ratu” dan teman-temannya lagi yang nyontoh film dari luar sana.

Kenapa ga mau JUJUR sih??? Geram banget aku!!!!! Lebih baik yang Meteor Garden kan yang menuliskan bahwa itu dibuat berdasarkan komik…. Apa kreatifitas di Indonesia sudah mati? Atau plagiat sudah jadi kepribadian baru lainnya bangsa ini?? Bangga banget kalau bisa niru karya orang lain!!! Udah gitu masih ada yang teriak2 dengan jangan beli bajakan atau NO Piracy, lha wong yang melakukanpembajakan itu ga jauh dari orang2 seni juga…

Trus kenapa sinetron Indonesia jadi bertele-tele??? Masih g kapok dengan pengalaman film TERSANJUNG ya, yang jadi kesandung di masyarakat. Apa gara2 rating trus profit, jadinya tidak memperhatikan kepentingan masyarakat?

Ingat, televisi adalah salah satu media untuk memberikan informasi dan edukasi bukan untuk menipu dan membodohi masyarakat!! Untuk apa banyak orang pintar dan untuk apa menuntut pendidikan gratis kalau pembodohan itu datangnya justru dari televisi? Sangat disayangkan juga bahwa sinetron di Indonesia hanya menayangkan hal2 tentang perebutan harta, perselisihan dalam keluarga, keserakahan, dll Lihat donk kenyataan yang ada di masyarakat. Jangan memberikan sesuatu yang utopis ke masyarakat, karena hidup dari masyrakat Indonesia saat ini kebanyakan sudah cukup diombang-ambingkan dalam hal-hal yang tidak baik.

Memang biaya produksi, dst untuk menjalankan dan menghidupkan roda dunia pertelevisian itu tidak murah; namun sangat disayangkan bila hal tersebut membuat orang-orang yang berkecimpung dibalik tabung kaca itu mempunyai rasa tanggung jawab terhadap apa akibatnya yang terjadi dalam masyarakat dengan semua yang mereka lakukan.

Jangan menutup mata juga kalau sekarang masyarakat banyak yang meniru hal2 g penting dari televisi, termasuk pembunuhan2 yang semakin merajalela.

Masih ditunggu dan diharapkan insan2 televisi yang mempunyai rasa kreativitas tinggi dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Iklan