Archive for sosial

Masalah TKI=Masalah Indonesia

Jawa Pos,17 Sept 2007 halaman 16.
Sebagai orang Indonesia dan sebagai wanita,membaca judul berita dalam kolom tersebut menimbulkan perasaan geram dan kasihan.

Terjadi lagi kepada seorang TKW Indonesia penyiksaan di Arab Saudi, dan yang lebih ironisnya lagi tangan dan kaki TKW tersebut disiksa.
Belum selesai rasanya lega setelah membaca berita Jawa Pos kemarin bahwa ada seorang TKW yang berhasil lolos dari hukuman mati.

Namun, kasus-kasus yang telah terjadi selama ini tidak juga menjadi pembelajaran, baik itu bagi para TKI atau calon TKI tersebut, PJTKI, dan pemerintah.
Kita tidak dapat menutup mata bahwa keadaan ekonomi di Indonesia mengalami peningkatan,namun peningkatan tersebut tidak terjadi secara merata. Hanya sebagian kecil saja rakyat Indonesia yang mulai merasakan perekonomian yang mulai membaik. Selebihnya dapat dilihat sendiri pada kenyataan yang terjadi di masyarakat.

Saya tidak dapat menyalahkan para TKI atau calon TKI tersebut 100%. Andaikan ada 2 pilihan untuk mencari pekerjaan bagi mereka antara bekerja di negara sendiri ataupun negara orang lain, saya yakin benar pasti mereka akan memilih bekerja di negara sendiri. Namun, jumlah pekerjaan di Indonesia pun sangat tidak berimbang dengan para pencari pekerjaan apalagi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang dari desa yang mungkin kurang mengenyam pendidikan dengan baik bahkan mungkin tidak pernah merasakan bangku sekolah sama sekali.
Keadaan terpaksa inilah yang membuat mereka berani membuat keputusan nekat untuk berangkat walaupun dengan cara ilegal sekalipun.

Sayangnya kepolosan mereka ini digunakan oleh para oknum2 yang memang kurang ajar, untuk mengambil keuntungan bagi mereka sendiri. Dari kasus tracking, masuk secara ilegal, sampai kehilangan nyawa adalah konsekuensi yang sering menjadi tanggungan mereka padahal seharusnya mereka tidak pernah berpikir akan mengalami keadaan seperti itu.
Oknum2 yang tidak bertanggung jawab itu salah satunya adalah PJTKI. Banyak sekali PJTKI yang berdiri dan menyalurkan tenaga kerja ini ternyata adalah PJTKI bohongan. Setelah mereka mendapatkan uang, mereka kemudian lepas tangan dengan para TKI yang mereka berangkat. Kemudian saat suatu hari para TKI tersebut mengalami masalah, tidak ada penghubung mereka dengan pihak2 yang dapat membantu mereka.

Kasus Marsinah yang telah dipetieskan rasanya menjadi sebuah cermin dari keadaan yang terjadi saat ini. Kemarin,saat ini, dan esok akan ada berapa puluh atau mungkin ratus lagi korban TKI.
Apakah akan ada 1 kasus saja yang mendapatkan keadilan?
Atau semua akan terlupakan begitu saja seiring berlalunya waktu?
Lalu bagaimana dengan para korban tersebut?
Bagaimana dengan mereka yang mengalami gangguan psikis, hilang tanpa diketahui rimbanya, diperkosa dan dihamili, dianiaya, keluarga2 yang menjadi beban mereka?
Mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab,

Menurut saya, yang bisa menghentikan semua ini hanyalah pemerintah, khususnya departemen yang mengurusi bagian tenaga kerja dan kesejahteraan rakyat.
Oh ya, saya lupa. Lapindo saja tidak beres bagaimana dengan yang ini??

Melihat kasus ini bagaikan melihat benang kusut yang kedua ujungnya sama sekali tidak terlihat.
Melihat dari keadaan perekonomian, tentu hal ini yang mendorong mereka untuk nekat menjalani pekerjaan apapun walau dengan resiko kehilangan nyawa. Kemudian dari segi pendidikan, saya tidak mau munafik bahwa pendidikan di Indonesia ini benar-benar mengenaskan. Berapa persen penduduk Indonesia yang pernah dan sedang mengenyam pendidikan YANG BERKUALITAS?? BUKAN SEKEDAR BISA BACA DAN TULIS!!
Namun benar-benar pendidikan yang mampu membimbing mereka untuk menjadi manusia yang dapat menggunakan otaknya untuk berpikir secara logis.

Tidak terbatas dari pendidikan saja, namun penguasaan emosional dari orang Indonesia pun sangat buruk. Kecerdasan emosi kita begitu rendah, jika tidak percaya lihat saja di lapangan, bila ada suatu masalah jalan keluar yang dipilih adalah dengan tindakan anarkis.
Tingkat kecerdasan emosi ini sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Saya merasakannya sendiri. Saat saya bisa lebih menguasai diri sendiri, dapat meredam emosi, dan mencoba tenang di saat yang mendesak; saya dapat berpikir, berbicara, dan mengambil tindakan yang lebih baik. Efeknya pun lebih baik bila dibandingkan mengedepankan emosi. Baik itu untuk saya sendiri maupun orang2 disekitar saya.

Bila manusia Indonesia telah mampu mengendalikan emosinya, saya rasa tekanan sosial yang mereka alami bisa mereka hadapi dengan lebih baik. Tidak dengan tindakan2 yang cenderung menggunakan tenaga dan amarah.
Back 2 topic, bila saja rakyat Indonesia dapat merasakan PENDIDIKAN BERKUALITAS, tentu kualitas mereka akan berbeda dan ini akan berdampak pula pada kehidupan mereka.
Menurut saya, kewajiban mengenyam pendidikan 9 tahun saat ini sudah tidak relevan lagi. Bila banyak sarjana S1 yang menganggur, kemudian bagaimana dengan mereka yang hanya lulusan SMP?Kemudian yang kurang dari itu bagaimana?

Pemerintah adalah pihak terakhir yang dapat diharapkan. Dengan adanya regulasi yang baik, undang-undang, dan yang terpenting SUMBER DAYA MANUSIA YANG JUJUR, BERKUALITAS DAN BERKOMITMEN tentu secara perlahan akan dapat mengatasi masalah ini bahkan mungkin semua masalah yang dihadapi Indonesia saat ini.

Saya menyadari bahwa tidak ada suatu proses yang instan, namun bila tidak ada niat dan langkah awal untuk menyelesaikan PELANGGARAN HAM TERHADAP TKI, maka tidak akan ada hentinya hal-hal seperti ini terjadi.
Saya juga tau bahwa Indonesia ini mengalami banyak masalah baik itu yang terlihat di masyarakat maupun tidak.
Dari masalah Lapindo, embargo, pencekalan penerbangan maskapai Indonesia, bencana-bencana alam, krisis ekonomi, pendidikan yang rendah, pencurian pasir Indonesia oleh Singapura, pelanggaran HAM baik dalam dan luar negeri,SARA,rasisme, kasus Munir, bahkan sampai pada kasus pemukulan wasit karate Indonesia. Itu masih segelintir masalah yang diketahui publik, bagaimana yang tidak?

Saya sendiri sering berpikir beratnya menjadi seorang presiden. 1 orang dikelilingi dari berbagai macam sudut yang menentang kebijakan dan keputusannya, dituntut oleh ratusan juta orang, dikejar oleh waktu, kemudian didatangi lagi masalah2 yang sebenarnya tidak diharapkan.
Andaikan mau dibilang itu memang konsekuensi seorang presiden, memang itu konsekuensinya. Tapi, bayangkan diri anda jika berada dalam posisinya?
Apa yang mau diharapkan dari waktu 5 tahun?
Perbaikan! Tentu saja, namun dengan banyak syarat. DUKUNGAN DARI RAKYATNYA satunya, bentuknya cobalah untuk merubah diri sendiri dulu. Perubahan2 kecil yang qta lakukan pastinya akan membawa perubahan besar bagi sekitar kita.
Jangan hanya menuntut,namun juga lakukanlah kewajiban.

Indonesia bukan negara yang kecil, bukan pula negara yang jumlah penduduknya besar.
Jangan pernah bandingkan dengan SIngapura, Hongkong, ataupun mana.
Walaupun sama-sama jajahan, namun rakyat Indonesia mempunyai ciri sifat yang sangat buruk dan hal tersebutlah yang memperburuk keadaan ini.
Sifat pemalas, tidak disiplin,cuek,menang sendiri, pasrah, tidak mau belajar, tidak jujur,kurang berkomitmen dan sok, adalah beberapa sifat yang kita miliki.
Kemudian sebelum beragumentasi, cobalah untuk mendengarkan omongan orang lain dulu, cerna, baru beri reaksi. Apabila berbeda pandangan, coba melihat dari sisi lain. Mungkin saja pendapat kita yang salah.

Bicara tentang Indonesia, tidak akan pernah habisnya. Sama seperti membicarakan masalah2nya. Saya rasa lagi, masalah pelanggaran HAM TKI ini jalan keluarnya akan sama seperti masalah-masalah lainnya.
Perlu ada usaha dari semua pihak terlebih lagi pihak yang memang lebih mengetahui aturan mainnya dan memang mempunyai kekuatan untuk menjalankannya.
LSM-LSM baik nasional dan internasional telah membantu (banyak juga yang menipu), namun saat ini yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita itu adalah pertolongan langsung oleh orang2 yang dapat melindungi mereka dari negara ini.
Secara sadar kita telah menikmati tetes keringat, airmata, dan darah mereka, namun saat mereka membutuhkan kita hanya sedikit pihak yang mau mengulurkan tangannya.

Saya sebagai mahasiswa, saat ini hanya dapat membaca,melihat, dan belajar segala macam peristiwa yang terjadi terhadap Indonesia. Apa yang dapat saya lakukan??
Mungkin hanya hal-hal kecil dan remeh bagi orang lain, namun ini yang terbaik dari saya.
Saya bangga menjadi orang Indonesia dan warga Indonesia, saya tidak perduli sejelek apapun orang menghina negara ini. Saya lahir, makan,minum, tidur, “pup”, dan melakukan smua aktivitas hidup saya di negara ini.
Kemudian sudah kewajiban saya sebagai mahasiswa untuk belajar dan menurut saya belajar tidak hanya dari bangku pendidikan.Buku, media massa, orang lain, dan kehidupan sehari-hari dapat memberikan saya wacana banyak hal. Mengajarkan mana hal yang baik dan buruk.
Saat ini saya belajar, dan semoga saat saya terjun dalam masyarakat nanti saya dapat menyumbangkan apa yang telah saya pelajari selama ini.
Mungkin tulisan saya ini naif dan masih idealis, namun saya mencoba untuk melihat masalah ini dari sisi lain. Mungkin apa yang saya lihat dan pikirkan tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan,namun inilah keprihatinan yang saya rasakan.
Semoga perubahan menuju hal yang baik akan terus dilakukan oleh warga Indonesia untuk Indonesia yang lebih baik.
Last but not least, semoga Tuhan melindungi dan memberikan keadilan,kekuatan, dan ketabahan bagi saudara-saudara TKI kita.

Tuhan memberkati

Iklan

Sinetron oh sinetron

Bicara dunia televisi Indonesia tidak akan lepas dengan yang namanya sinetron.

Sinetron atau Soap Opera sudah menjadi tontonan wajib bagi pemirsa tv Indonesia terutama para ibu rumah tangga, PRT, maupun tontonan alternatif bagi pemirsa tv lainnya yang g menemukan acara yang lebih bagus.

Sinetron menjadi booming saat dunia film Indonesia yang katanya insan perfilman itu mati suri dan sekarang saat film Indonesia mulai bangkit dari kubur (serem bgt bahasanya), sinetron tetap berjaya namun dengan format lainnya.

Beberapa tahun yang lalu, dunia sinetron Indonesia sempat dikuasai oleh 2 PH besar yang saling berseteru dan sama2 dimiliki oleh keturunan India. 2 Ph itu saling berebut slot sinetron dan TV serta berlomba-lomba untuk mengkontrak artis-artis dengan nama besar seperti Desy Ratnasari, Jeremy Thomas, Tamara B, dll.

Namun, namanya manusia pasti juga akan merasa bosan kan bila berada pada satu keadaan tertentu dalam waktu cukup lama?? Nah itu juga yang terjadi dengan sinetron Indonesia. Topik percintaan kaum kuliahan mulai bergeser dengan topik2 yang bergenre mistik dan herannya semua televisi selalu menyajikan tema yang sama. Hal itu tidak hanya terjadi ada sinetron, namun juga pada tayangan2 reality show. Tentu masih ingat kan dengan acara di RCTI yang terkenal dengan “Begini critanya…”

Nah, karena banyak yang memprotes, akhirnya tema tersebut berpindah lagi tapi kok tidak meninggalkan unsur2 mistik yang tidak masuk akal. Tayangan religius yang menceritakan kejahatan manusia di dunia dan balasannya mulai merajalela, namun sayangnya hal tersebut tidak diolah dengan baik. Banyak hal2 tidak masuk akal dan tidak baik bagi pertumbuhan anak kecil; mungkin tidak anak kecil saja ya karena orang dewasa pun lama-lama akan terbentuk pola pikirnya sama seperti yang dilihat/ditontonnya setiap hari.

Tidak hanya itu saja. Sekarang ada tren sinetron baru. Plagiatisme……. heran banget kenapa Indonesia bangga sekali dengan image sebagai PENIRU!!!!!!

Mulai dari VCD bajakan, lagu yang yang lirik/musiknya juga dibajak, baju bajakan, eh sekarang sinetronnya g mau ketinggalan. Banyak sekali sinetron yang tema, tokoh, pokoknya semuanya jiplak abis dari luar negeri sono (kebanyakan sih korea). Heran kenapa kok ga mau nulis kalau itu disadur dari apa gitu. Walaupun niru tapi kalau mau jujur akan lebih dihargai oleh pemirsanya.

Misalnya kalau sinetron jadul itu selalu ada “diangkat dari novel karya Mira W.” misalnya, nah sekarang…. orang bodoh aja tau kalau Candy yang tayang di RCTI itu dari komik Candy-Candy (komik jamanku masih TK bo..), kemudian FTV “Pacar untuk Calon Kakak Iparku” itu dicontoh plek habis mirip dari film “Ten Things I Hate About You” (Julia Stiles, Heath Ledger), kemudian masih ada ‘Ratu” dan teman-temannya lagi yang nyontoh film dari luar sana.

Kenapa ga mau JUJUR sih??? Geram banget aku!!!!! Lebih baik yang Meteor Garden kan yang menuliskan bahwa itu dibuat berdasarkan komik…. Apa kreatifitas di Indonesia sudah mati? Atau plagiat sudah jadi kepribadian baru lainnya bangsa ini?? Bangga banget kalau bisa niru karya orang lain!!! Udah gitu masih ada yang teriak2 dengan jangan beli bajakan atau NO Piracy, lha wong yang melakukanpembajakan itu ga jauh dari orang2 seni juga…

Trus kenapa sinetron Indonesia jadi bertele-tele??? Masih g kapok dengan pengalaman film TERSANJUNG ya, yang jadi kesandung di masyarakat. Apa gara2 rating trus profit, jadinya tidak memperhatikan kepentingan masyarakat?

Ingat, televisi adalah salah satu media untuk memberikan informasi dan edukasi bukan untuk menipu dan membodohi masyarakat!! Untuk apa banyak orang pintar dan untuk apa menuntut pendidikan gratis kalau pembodohan itu datangnya justru dari televisi? Sangat disayangkan juga bahwa sinetron di Indonesia hanya menayangkan hal2 tentang perebutan harta, perselisihan dalam keluarga, keserakahan, dll Lihat donk kenyataan yang ada di masyarakat. Jangan memberikan sesuatu yang utopis ke masyarakat, karena hidup dari masyrakat Indonesia saat ini kebanyakan sudah cukup diombang-ambingkan dalam hal-hal yang tidak baik.

Memang biaya produksi, dst untuk menjalankan dan menghidupkan roda dunia pertelevisian itu tidak murah; namun sangat disayangkan bila hal tersebut membuat orang-orang yang berkecimpung dibalik tabung kaca itu mempunyai rasa tanggung jawab terhadap apa akibatnya yang terjadi dalam masyarakat dengan semua yang mereka lakukan.

Jangan menutup mata juga kalau sekarang masyarakat banyak yang meniru hal2 g penting dari televisi, termasuk pembunuhan2 yang semakin merajalela.

Masih ditunggu dan diharapkan insan2 televisi yang mempunyai rasa kreativitas tinggi dan tanggung jawab terhadap masyarakat.